Pengalaman Berobat Ke Melaka

No comment 1859 views

Rumah Sakit Mahkota Medical Center Melaka

(wisatapekanbaru.com) - Pekanbaru memiliki letak yang sangat strategis, kota bisnis ini membentuk kawasan segi tiga emas terhadap Negeri Singapura dan Malaysia yang jaraknya bahkan jauh lebih dekat daripada Ibukota negeri sendiri. Letak geografis yang  sangat dekat dengan Singapura dan Malaysia memberikan pengaruh tersendiri bagi masyarakat Riau khususnya Pekanbaru dalam kehidupan sehari – hari, salah satunya adalah perilaku masyarakat dalam menentukan pilihan fasilitas kesehatan.

Banyaknya cerita sukses kolega yang melakukan pengobatan di Malaysia membuat kami tertarik dan ingin membuktikan sendiri bagaimana kualitas fasilitas kesehatan di Malaysia. Banyak sekali orang Sumatera yang berobat ke Malaysia, masyarakat aceh dan sumatera utara sering berobat ke Penang, Pulau Penang memang menjadi pilihan primadona untuk berobat karena letaknya yang dekat dengan Medan, sedangkan masyarakat Riau memilih berobat ke Melaka karena jauh lebih dekat dan dipercaya memiliki fasilitas dan kualitas pelayanan kesehatan yang jauh lebih baik daripada di dalam negeri. Hal ini membuat kami penasaran dan ingin membuktikan sendiri.

Berawal dari keluhan asam lambung yang tak kunjung membaik selama bertahun – tahun meski sudah gonta – ganti dokter dan pindah – pindah rumah sakit di dalam negeri kamipun mengikuti saran teman yang menyarankan untuk berobat ke Melaka tepatnya ke Mahkota Medical Center (MMC / Rumah sakit mahkota). Penyakit asam lambung ini memang sangat mengganggu kualitas hidup, rasa panas ditenggorokan, perut kembung, sesak nafas dan berbagai gangguan lainnya yang disebabkan dari lambung. Benar – benar membatasi ruang gerak dan menggerus rasa percaya diri. Akhirnya seminggu usai berlebaran kamipun memutuskan untuk berobat ke Melaka.

Ternyata tiket pesawat dari Pekanbaru ke Melaka lumayan mahal, kami putuskan untuk ambil penerbangan ke Kuala Lumpur menggunakan Air Asia. Sesampai diruang tunggu keberangkatan internasional ternyata kami menemukan fenomena yang menarik, hampir sebagian besar calon penumpang yang berangkat ke Malaysia bertujuan untuk BEROBAT ..!! luar biasa antusiasme masyarakat untuk berobat ke luar negeri. Meskipun di Pekanbaru sudah banyak berdiri Rumah Sakit yang megah dengan peralatan yang tak kalah canggih.

Sesampai di Kuala Lumpur kami melanjutkan perjalanan menuju Negeri Melaka menggunakan Bus dari Bandara Kuala Lumpur International Airport (KLIA) tiket bus berharga RM 24 /orang dan dapat dengan mudah didapat di loket penjualan di Bandara, Busnya bagus tepat waktu dan taka ada calo. Perjalanan darat dari Kuala Lumpur menuju Melaka ditempuh selama lebih kurang 3 jam.

Sesampai di kota Melaka kami langsung menuju hotel yang sudah kami booking dengan rate RM 80 / malam yang letaknya tidak jauh dari Rumah Sakit Mahkota, bisa ditempuh dengan jalan kaki saja. Disekitaran Mahkota Medical Center memang sangat banyak hotel bagus yang murah hingga hotel berbintang. Sebenarnya jika anda mendarat di Bandara Udara / pelabuhan kota Melaka bisa menumpang bus gratis yang disediakan oleh Rumah sakit Mahkota.

shutle bus RS Mahkota Melaka

Esok harinya sepagi mungkin kami langsung menuju RS Mahkota Medical Center (MMC) Melaka dengan berjalan kaki tentunya karena dekat sekali dari Al-abrar hotel tempat kami menginap. Ternyata di lobi rumah sakit besar ini sudah ramai sekali orang yang mau berobat, kamipun mengambil nomor antrian untuk mendaftar. Karena nomor antrian masih panjang dan kamipun sarapan dulu di cafeteria yang tersedia didalam RS Mahkota, makanannya cukup banyak pilihan, bersih dan harganya terjangkau. Setelah sarapan kami kembali menunggu hingga nomor antrian kami tiba sekitar 40 menit. Petugas costumer service dengan cekatan melayani kami, karena ini pertama kali kami berobat maka harus registrasi dulu, seperti biasa passport dan KTP diminta untuk registrasi. Tak sampai 10 menit proses registrasi  selesai dan langsung dapat kartu member, untuk biaya administrasi dikenakan RM 4 (saat itu kurs 1 Ringgit Malaysia setara Rp 3.200,- ) saat registrasi CS juga menawarkan pilihan dokter yang mau dituju.

Dari rekomendasi kolega kami disarankan untuk memilih dr Chow Ken Tek spsialis gastroenterologhy dan hepatology. Kamipun segera naik ke lantai 4 tempat praktek dokter Chow dan ternyata disini sudah ramai. Kami mendapat nomor antrian 20. Disini rasanya seperti berobat di rumah sakit negeri sendiri karena hampir 85% orang yang berobat adalah orang Indonesia paling banyak dari Riau dan Riau kepulauan, ada yang dari Bengkalis, Tanjung Pinang, Dumai, Pekanbaru, Batam, Palembang bahkan ada juga yang dari Jakarta. Emezingg kan…

Ini memang diluar dugaan kami ternyata kami baru bisa konsultasi bertemu dokter setelah menunggu 5 jam. Ya 5 jam anda tidak salah baca… saking banyaknya pasien dan sibuknya dokter, karena dokter diwaktu pagi juga sibuk menangani pasien yang harus melakukan pemeriksaan endoscopy. Saat konsultasi dokter juga terlihat ngebut menangani tidak ada basa basi lansung ceritakan keluhan dokter mendengarkan kemudian dokter melakukan pemeriksaan dan selanjutnya dokter menyarankan untuk melakukan beberapa tes keesokan harinya berupa tes darah, rongten, USG dan endoscopy. Lumayan banyak pemeriksaan yang harus dilakukan, kamipun disuruh puasa dari tengah malam hingga seluruh tes selesai dilakukan. Biaya konsultasi dokter RM 180 atau jika dirupiahkan hampir Rp 500.000,- yang durasinya kira – kira lebih kurang 8 menit. Lumayan juga kami pikir.

Hari ke-2 pengobatan kami kembali datang pagi – pagi ke mahkota medical center sebelum menjalani tes – tes tersebut pasien diwajibkan membayar biaya tes tersebut terlebih dahulu baru bisa ikut ngantri untuk tes. Total untuk 4 tes tersebut adalah RM 1.400 (silahkan dirupiahkan sendiri hehhe..) . Tes pertama adalah pemeriksaan darah, diambil 3 tabung. Saat antri ambil darah meskipun ramai tapi tidak terlalu lama karena ada 4 counter parallel sekaligus. Selanjutnya rongten dada juga gak pake lama, selanjutnya USG juga gak terlalu lama meski ramai. Semua hasil tes keluar setelah 2 jam dan langsung diteruskan ke dokter yang menangani kita tadi.

Akhirnya tiba pemeriksaan lambung dengan endoscopy  yang satu ini yang membuat kami deg degan karena pasien harus ditidurkan dengan disuntikkan obat tidur kemudian dari mulut akan dimasukkan selang panjang yang diujungnya terdapat kamera untuk melihat kondisi dalam saluran cerna. Akhirnya pemeriksaan selesai dan berjalan dengan lancar. Masih dihari yang sama pada sore hari kembali lagi konsultasi dengan dokter sambari sang dokter memaparkan hasil beberapa tes tadi dan semuanya normal hanya saja terdapat gastritis di bagian lambung bawah. Diakhir sesi konsultasi dokter memberikan resep obat untuk satu bulan. Obat yang diberikan terdiri atas 4 jenis dengan total harga RM 580, harga ini kami rasa cukup murah mengingat ini pengobatan untuk satu bulan sedangkan di Pekanbaru saja untuk biaya obat selama seminggu yang diberikan dokter rata – rata berbiaya diatas Rp 1,5 juta.

Setelah urusan berobat selesai hari selanjutnya kami gunakan untuk jalan – jalan mengelilingi Kota Melaka ya lumayanlah buat ngurangin stress.. hehhe

Dari pengalaman berobat ke Melaka Medical Center kami merasakan beberapa hal berikut yang menjadikan keunggulan rumah sakit ini :

  1. Pelayanan tersistem dengan baik dari sistem antrian, jumlah karyawan yang melayani serta kenyamanan tempat cukup baik dan nyaman
  2. Mahkota Medical Center memiliki akomodasi yang baik seperti bus antar jemput pasien ke bandara / pelabuhan gratis
  3. Dari Segi harga biaya – biaya yang kami jalani masih masuk akal dan tak berbeda jauh dari rumah sakit di Pekanbaru bahkan ada beberapa item yang lebih murah.
  4. Dokter benar – benar memeriksa dan mendiagnosa secara teliti dengan data yang lengkap dari hasil berbagai tes yang dilakukan.
  5. Tanpa basa basi dan prosedur yang berbelit –belit, semua clear.

Adapun kekurangan yang kami rasakan adalah sebagai berikut :

  1. Masalah klasik ada beberapa karyawan rumah sakit yang kurang ramah bicaranya (mungkin karena kita orang Indonesia sudah terbiasa Bahasa yang halus sehingga Bahasa melayu Malaysia terdengar sedikit kasar)
  2. Saat konsultasi pertama dokter terkesan buru – buru karena mengejar antrian pasien. Kami tidak diberikan waktu lebih untuk bertanya.
  3. Poin ke -3 tidak ada sangkut pautnya dengan rumah sakit tapi kami jengkel sekali dengan petugas bandara udara Melaka yang ketus dan arogan sama sekali tidak ramah, air mineral kami yang dibawa dirampas begitu saja dengan kasar saat screening masuk keruang tunggu, padahal itu hanya air putih biasa dan diruang tunggu pun tak tersedia air yang dapat diminum hingga sampai pesawat harus pasrah menahan haus.

Dari pengalaman jalan – jalan ke berbagai negara asia tenggara untuk keramah tamahan jelas sekali bangsa kita Indonesia tak ada duanya. Bangsa kitalah bangsa paling ramah. Sekianlah pengalaman kami berobat ke Melaka dalam rangka ikhtiar mencari kesembuhan. Jika para pembaca butuh informasi lainnya silahkan komen di kolom komentar.

Sampai tulisan ini ditulis alhamdulillah kami merasakan keluhan penyakit kami jauh banyak berkurang dari sebelumnya, semoga bisa sembuh seterusnya.

Jika anda punya niat untuk berobat ke Melaka atau membutuhkan informasi lainnya tentang perobatan disana silahkan komen di kolom komentar =)

 

author

Leave a reply "Pengalaman Berobat Ke Melaka"